 |
| Ekky Saputra, Siomay Mulya Jaya |
Palembang (25/11/20), Dewasa ini Usaha Kecil Menengah (UKM) kian mengalami
masa-masa sulit di tengah pandemi COVID-19 yang berlangsung di Kota Palembang.
Wali kota palembang pun mengambil langkah yang tepat untuk mengontrol
penyebaran virus COVID-19 ini dengan memberlakukan Pembatasan sosial dan jam
usaha untuk pengusaha khususnya di bidang kuliner.
Namun, di lain sisi ada yang merasa dirugikan dengan situasi dan kondisi
pada saat ini. Salah satunya adalah Agus Salim Atmawijaya, beliau adalah agen
siomay yang berada di kawasan Jl.Sepakat Jaya Kelurahan Kemuning Kota Palembang
Ia mengatakan bahwa adanya penurunan omzet yang signifikan saat pandemi
berlangsung.
“Saya ini sudah menjadi agen siomay itu sekitar 5 tahun, saya amat
menguasai usaha ini dan menjadi satu-satunya sumber penghasilan saya. Ya kalau
ditanya biasanya saya menerima penghasilan sehari sekitar RP.300.000 (Tiga Ratus Ribu
Rupiah), tapi saat pandemi ini omzet yang saya dapat cuma kisaran RP.100.000
(Seratus Ribu Rupiah). Dampaknya jadi mengurangi produksi siomay dan gaji
karyawan saya”, Ucapnya
Beliau juga mengatakan bahwa “Pembatan sosial pada akhirnya membatasi jam
kerja karyawan nya yang berjumlah 4 orang, Hal ini sangat tidak efektif untuk
usaha nya karena seringkali tidak mencapai target dalam penjualan.
Selanjutnya, Agus menambahkan dalam usaha yang dijalani nya pasti ada rasa
tanggung jawab, maka dari itu ia tidak sama sekali mengurangi gaji yang ia
berikan kepada para karyawan nya. Sehingga karyawan nya pun tidak cukup
kesulitan saat menafkahi anak dan istri mereka.
Agus pun berharap supaya mendapat kejelasan dari Pemerintah kota khususnya
di bidang koperasi dan usaha kecil menengah mengenai dana subsidi untuk
diberikan saat pandemi berlangsung.
Rencana nya dana subsidi itu akan ia manfaatkan untuk membuat setidaknya
satu gerobak siomay tambahan untuk karyawan nya dan biaya operasional lainnya.
Tak hanya dari pihak agen siomay nya saja yang terkena dampak dari pandemi
ini, hal tersebut juga dirasakan oleh Dudung yang merupakan salah satu karyawan
Agus Salim Atmawijaya yang bertugas untuk menjadi pedagang siomay keliling nya
Menurut Dudung, “selama saya bekerja, baru kali ini saya merasakan pengalaman
yang amat pahit menjadi pedagang siomay. Itu karena biasanya saya hanya
menjajakan dagangan saya di depan sekolah dan hampir selalu ramai anak-anak
ketika jam istirahat membeli siomay saya, karena sekolah tutup saya harus
menjajakannya dengan berjalan dari gang ke gang untuk menemui pembeli. Tapi
belakangan ini tidak banyak yang membeli dagangan saya, malah yang ada waktu
itu saya dipalak preman di salah satu gang”.
Namun, dibalik pengalaman pahit itu Dudung amat senang karena bertemu
langganan-langganan yang berbeda dari
biasanya yang menjadi pembelinya. “sering sih dapat pesanan-pesanan kecil di
gang-gang, tapi waktu itu ada Ibu-ibu arisan memborong semua siomay dan sampai
saat ini mereka menjadi langganan baru.
Ia berharap agar pandemi COVID-19 ini cepat usai agar semua orang bisa
mencari rezeki nya dengan sehat dan selamat.